Recent

Text Widget

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Follow Us

Page

Diberdayakan oleh Blogger.

Tabs

Flexible Home Layout

Arsip Blog

Sub menu section

Main menu section

Tampilkan postingan dengan label Analisis Kuantitatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analisis Kuantitatif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Mei 2013

,

Alkalimetri

Pengertian Alkalimetri

Alkalimetri merupakan suatu teknik analisis untuk mengetahui kadar keasaman suatu zat dengan menggunakan larutan standar basa. Basa yang digunakan biasanya adalah natrium hidroksida (NaOH). Sebelum digunakan, larutan NaOH harus distandarisasi dahulu dengan asam oksalat (H2C2O4). Hidroksida-hidroksida dari natrium, kalium dan barium umumnya digunakan sebagai larutan standar alkalis (basa). Ketiganya merupakan basa kuat dan sangat mudah larut dalam air. Pembuatan larutan standar alkalis dan amonium hidroksida tidak dibenarkan, kecuali bersifat sebagai basa lemah, pada proses pelarutan dilepaskan gas amonia (beracun).

titrasi, alkalimetri, asidimetri

Natrium hidroksida paling sering digunakan karena murah dan kemurniannya tinggi. Oleh karena sifatnya yang sangat higroskopis, maka diperlukan ketelitian pada proses penimbangan. Pada saat penimbangan gunakan botol timbang bertutup untuk mengurangi kesalahan. Standarisasi larutan NaOH dapat dilakukan dengan larutan asam oksalat sesuai dengan reaksinya sebagai berikut:

NaOH (aq) + H2C2O4 (aq) → Na2C2O4 (aq) + 2 H2O (l)

Publisher: Unknown - 17.00

Rabu, 22 Mei 2013

,

Asidimetri

Pengertian Asidimetri

Asidimetri merupakan suatu metode pengukuran kadar kebasaan suatu zat dengan menggunakan larutan asam sebagai standar. Standar asam yang sering digunakan adalah asam klorida (HCl) dan asam sulfat (H2SO4). Kedua asam tersebut umumnya ada dalam keadaan pekat. Asam klorida pekat konsentrasinya adalah 10,5 - 12 N, sedangkan asam sulfat pekat mempunyai konsentrasi 36 N. Asam klorida lebih sering digunakan sebagai standar dibandingkan dengan asam sulfat karena mudah larut dalam air. Kelemahan penggunaan asam sulfat adalah asam sulfat dapat membentuk garam sukar larut seperti barium sulfat.

Asam klorida encer dibuat dengan cara mengencerkan asam klorida pekat dengan memperhitungkan berat jenis dan kadarnya. Standarisasi larutan HCl dapat dilakukan dengan natrium boraks (Na2B4O7.10H2O). Reaksinya adalah sebagai berikut:

Na2B4O7.10H2O (aq) + HCl (aq) → 2 NaCl (aq) + 4 H3BO3 (aq) + 5 H2O (l)

Berdasarkan reaksi di atas maka berat ekivalen (BE) natrium boraks adalah :


BE = 1/2 [Mr ] = 191

Reaksi dalam Asidimetri

Reaksi yang terjadi dalam titrasi untuk menentukan kadar Na2CO3 dan NaOH dalam campuran adalah sebagai berikut :

Reaksi 1:
NaOH (aq) + HCl (aq) → NaCl (aq) + H2O (l)
Na2CO3 (aq) + HCl (aq) → NaCl (aq) + NaHCO3 (aq)

Reaksi 2:
NaHCO3 (aq) + HCl (aq) → NaCl (aq) + CO2 (g) + H2O (l)
Publisher: Unknown - 17.00

Selasa, 21 Mei 2013

,

Titrasi Kompleksometri

Salah satu tipe reaksi kimia sebagai dasar penetapan titrimetri adalah pembentukan kompleks atau ion kompleks yang larut namun sedikit sekali terdisosiasi. Jadi titrasi kompleksometri adalah jenis titrasi dengan titran dan titrat saling mengompleks, membentuk hasil berupa senyawa kompleks. Salah satu contoh adalah reaksi ion perak dengan ion sianida membentuk ion kompleks Ag(CN) yang sangat stabil.

Hanya beberapa ion logam seperti tembaga, kobalt, nikel, seng, kadmium, dan merkurium (II) yang membentuk kompleks stabil dengan ligan nitrogen seperti amonia dan trietilendiamin. Ion logam lain misalnya aluminium, timbal dan bismut, dikomplekskan secara lebih baik oleh ligan yang mengandung atom oksigen sebagai penyumbang pasangan elektron. Zat pengkhelat tertentu yang mengandung baik oksigen maupun nitrogen teristimewa efektif dalam membentuk kompleks yang stabil dengan logam, yang sangat beraneka ragam antara lain etilendiamintetraesetat / ethylendiaminetetraacetic (EDTA). Rumus struktur EDTA seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini:

EDTA struktur rumus kimia

Kompleksometri dalam perkembangan analisis kimia mengalami kemunduran karena kelemahannya serta adanya cara-cara baru yang lebih baik. Tetapi dengan penelitian-penelitian tentang pengkhelat polidentat, maka terjadi kebangkitan baru dalam analisis unsur logam. Perhatian baru terhadap kompleksometri ini terutama diawali oleh Schwarzenbach di Swiss, yang menyadari potensi pengkhelat dalam analisis volumetrik, dan mulai mengembangkannya pada tahun 1945. Perhatian utama tertuju pada asam-asam aminopolikarboksilat, salah satu diantaranya adalah EDTA. Bahan-bahan pembentuk khelat lain juga dikembangkan.
Publisher: Unknown - 17.00

Rabu, 10 April 2013

,

Penentuan Kadar Klorida Secara Argentometri

Argentometri. Titrasi pengendapan adalah titrasi yang berdasarkan prinsip kelarutan. Cara yang paling sering digunakan adalah titrasi argentometri. Ada tiga macam cara dalam titrasi argentometri, yaitu cara Mohr, Volhard, dan Fajans.

Cara Mohr

Prinsip dasar cara Mohr adalah pembentukan endapan berwarna antara kelebihan ion perak dengan indikator kalium kromat (K2CrO4). Timbulnya endapan perak kromat berwarna merah disamping endapan perak klorida menunjukkan titik akhir titrasi. Indikator K2CrO4 tidak dapat digunakan dalam suasana asam. Cara ini tidak dapat digunakan untuk menetukan kadar iodida dan harus berlangsung pada pH 7-10.

kadar klorida argentometri

Cara Volhard

Cara Volhard didasarkan pada pembentukan endapan perak tiosianat setelah ion klorida habis bereaksi dengan ion perak, dalam suasana asam nitrat. Untuk mengetahui adanya ion tiosianat berlebh digunakan indikator besi (III). Cara Volhard dapat digunakan untuk titrasi langsung dan tidak langsung. Penentuan kadar perak dapat menggunakan titrasi langsung. Cara titrasi tidak langsung dapat digunakan untuk menentukan kadar klorida. Pada cara tidak langsung, cuplikan klorida direaksikan dengan perak nitrat berlebih. Kelebihan perak nitrat dititrasi dengan tiosianat standar yang diketahui konsentrasinya. Tiitik akhir titrasi dapat diketahui dengan terbentuknya warna merah dari kompleks besi (III) tiosianat.

Cara Fajans

Prinsip kerja Fajans berdasarkan pada absorbsi indikator pada permukaan endapan AgCl yang menyebabkan perubahan warna endapan. Titik akhir titrasi dapat diamati pada saat terjadi perubahan pada warna permukaan endapan, dari putih menjadi merah muda (pink). Oleh karena indikator absorbsi merupakan asam/basa lemah maka pengaturan pH selama titrasi sangat penting.
Publisher: Unknown - 17.00