Recent

Text Widget

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Follow Us

Page

Diberdayakan oleh Blogger.

Tabs

Flexible Home Layout

Arsip Blog

Sub menu section

Main menu section

Tampilkan postingan dengan label Asam dan Basa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asam dan Basa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 April 2013

,

Asam-asam Oksi

Asam oksi (oxyacid) adalah asam terner yang mengandung atom oksigen. Untuk semua asam anorganik yang umum, atom-atom hidrogen yang dapat terion adalah atom-atom hidrogen yang mempunyai ikatan kovalen dengan atom oksigen. Oleh sebab itu, asam nitrat (HNO3) lebih tepat dituliskan sebagai HONO2, sedangkan asam perklorat HClO4 dituliskan sebagai HOClO3, dan seterusnya.

asam oksi hipoklorit klorit klorat perklorat

Dalam satu seri asam-asam oksi dari satu unsur terdapat hubungan antara kekuatan asam dengan banyaknya atom oksigen dalam spesies yang bersangkutan. Semakin banyak atom oksigen semakin kuat asam yang bersangkutan. Asam nitrat, HONO2 (pKa = -1,4) termasuk asam kuat, dan lebih kuat daripada asam (lemah) nitrit HONO (pKa = +1,33). Parameter elektronegativitas dapat dipakai untuk menjelaskan kekuatan relatif asam oksi ini. Atom oksigen bersifat elektronegatif tinggi, maka semakin banyak atom oksigen semakin besar densitas elektron tertarik menjauhi atom H sehingga semakin lemah ikatan O-H, dan akibatnya semakin mudah terion dengan melepaskan ion H+, atau dengan kata lain semakin kuat asam yang bersangkutan.

Contoh asam oksi yang lain adalah asam fosfat (H3PO4) dan asam sulfat (H2SO4).
Publisher: Unknown - 17.00

Selasa, 02 April 2013

,

Asam-asam Biner

Asam-asam biner (binary acids) yang paling umum adalah asam-asam halida yang mempunyai pKa sebagaimana ditunjukkan pada tabel di bawah. Nilai positif bagi pKa asam hidrofluorida menyatakan bahwa asam ini bersifat paling lemah dari ketiga asam yang lain, sedangkan asam hidroiodida paling kuat. HCl, HBr, dan HI dalam air adalah asam-asam kuat, terion hampir semua dengan persamaan ionisasi secara umum sebagai berikut:

HX (aq) + H2O (l) ⇌ H3O+ (aq) + X- (aq)

Persamaan ionisasi tersebut menunjukkan bahwa perubahan utama yang terjadi adalah pemecahan ikatan H-X (X = F, Cl, Br, dan I) dan pembentukan tambahan ikatan O-H pada molekul H2O menjadi ion hidronium (H3O+).
struktur asam klorida
Nilai energi ikatan dapat dilihat pada tabel, dan energi ikatan O-H adalah 459 kJ mol-1. Oleh karena kecenderungan reaksi menuju ke arah pembentukan ikatan yang lebih kuat, maka jelas bahwa derajat ionisasi makin membesar dari HF ke HI, dan ternyata secara sederhana dapat dikatakan bahwa perbedaan energi ikatan berkorelasi baik dengan kekuatan asam yang bersangkutan. Namun demikian, perhitungan kuantitatif sifat asam harus melibatkan entalpi dan entropi dari hidrasi ion maupun molekul yang bersangkutan.

AsampKaEnergi Ikatan (kJ mol-1)
HF (aq)+3565
HCl (aq)-2428
HBr (aq)-9362
HI (aq)-10295
Publisher: Unknown - 17.00

Senin, 01 April 2013

,

Reaksi Oksida Asam dan Basa

Asam dan basa bereaksi membentuk senyawa ion yang disebut garam. Garam yang terbentuk terdiri dari kation basa dan anion sisa asam. Dalam arti yang lebih luas, asam dan basa juga mencakup oksida asam dan oksida basa. Jadi reaksi asam basa oksida dapat berupa reaksi oksida asam dengan basa dan oksida basa dengan asam.

gambar struktur oksida

Reaksi oksida basa dengan asam

Oksida basa adalah oksida logam yang dapat bereaksi dengan asam membentuk garam dan air. Secara umum, reaksi oksida basa dan asam adalah sebagai berikut:

Oksida Basa + Asam Garam + Air

Reaksi terjadi karena ion H+ asam bereaksi dengan ion O2- dari oksida basa membentuk air. Misalnya, reaksi antara kalsium oksida dan asam klorida menghasilkan kalsium klorida dan air berikut ini:

CaO + 2 HCl CaCl2 + H2O

Reaksi oksida asam dengan basa

Oksida asam adalah oksida nonlogam yang dapat bereaksi dengan basa membentuk garam dan air. Oksida asam dan basa bereaksi menurut persamaan reaksi berikut:

Oksida Asam + Basa → Garam + Air

Reaksi tersebut terjadi karena ion OH- bereaksi dengan oksida asam membentuk anion sisa asam dan air. Misalnya, reaksi antara gas karbondioksida dengan basa berikut ini.
CO2 + 2 OH- → CO32- + H2O

Reaksi amonia dengan asam

Reaksi amonia dengan asam membentuk garam amonium.
Amonia + Asam → Garam Amonium

Reaksi terjadi karena ion H+ dari asam bergabung dengan dengan molekul amonia membentuk ion amonium. Jika ditinjau dari teori asam basa Brønsted-Lowry, amonia adalah suatu basa.

Misalnya adalah reaksi antara amonia dengan asam sulfat, maka terbentuk amonium sulfat.
2 NH3 + H2SO4 → (NH4)2SO4
Publisher: Unknown - 17.00

Selasa, 15 Januari 2013

,

Soal dan Jawaban Titrasi Asam Basa

Inilah beberapa contoh soal dan jawaban tentang titrasi asam basa. Bacalah benar-benar setiap latihan soal asam basa berikut. Kalau perlu, tulis kembali di atas kertas supaya mengurangi kebingungan.

Contoh #1: Jika 20,60 mL larutan HCl 0,0100 M digunakan untuk mentitrasi 30,00 mL larutan NaOH sampai titik ekivalen, berapakah konsentrasi larutan NaOH?
Penyelesaian:
1) Tulis persamaan reaksi setara:
HCl + NaOH ---> NaCl + H2O
2) Mencari mol HCl:
mol = M x V = (0,0100 mol/L) (0,02060 L) = 0,000206 mol
4) Mencari mol NaOH:
Karena perbandingan ekivalen HCl dan NaOH adalah 1:1, maka mol NaOH sama dengan mol HCl, yaitu 0,000206 mol.
5) Mencari konsentrasi NaOH:
0,000206 mol / 0,03000 L = 0,00687 M


Contoh #2: Berapakah volume 0,105 M HCl untuk mentitrasi larutan berikut sampai titik ekivalen?
a) 22,5 mL NH3 0,118 M
b) 125,0 mL larutan yang mengandung 1,35 gram NaOH per liter
Kita mengabaikan bahwa HCl-NH3 titrasi kuat-lemah. Kita hanya fokus ke titik ekivalen, bukan pH yang dihasilkan.
Penyelesaian a:
1) Persamaan reaksi
HCl + NH3 ---> NH4Cl
2) Perbandingan molar HCl dan NH3:
1 : 1
3) Mol NH3:
mol = M x V = (0,118 mol/L) (0,0225 L) = 0,002655 mol
4) Mencari mol HCl yang digunakan:
1 banding 1, maka mol HCl = mol  NH3 = 0,002655 mol
5) Menentukan volume HCl:
0,105 mol/L = 0,002655 mol / x x = 0,0253 L = 25,3 mL
Penyelesaian b:
1) Menentukan konsentrasi larutan NaOH:
MV = massa / massa molar (x) (1,00 L) = 1,35 g / 40,00 g/mol
x = 0,03375 M
2) Persamaan reaksi setara:
HCl + NaOH ---> NaCl + H2O
3) Menentukan volume HCl yang dibutuhkan:
M1V1 = M2V2 (0,03375 mol/L) (125,0 mL) = (0,105 mol/L) (x)
x = 40,18 mL


Contoh #3: Berapa volume 0,116 M H2SO4 yang dibutuhkan untuk mentitrasi 25,0 mL Ba(OH)2   0,00840 sampai titik ekivalen?:
Penyelesaian:
1) Persamaan reaksi:
H2SO4 + Ba(OH)2 ---> BaSO4 + 2H2O
2) Perbandngan molar:
1 : 1
3) Gunakan cara ini untuk perbandingan molar 1:1:
M1V1 = M2V2 (0,116 mol/L) (x) = (0,00840 mol/L) (25,0 mL)
x = 1,81 mL


Contoh #4: 27,0 mL NaOH  0,310 M dititrasi dengan H2SO4 0,740 M .  Berapa volume H2SO4 yang digunakan untuk mencapai titik akhir titrasi?
Penyelesaian:
1) Mol NaOH:
(0,310 mol/L) (0,027 L) = 0,00837 mol
2) Perbandingan molar NaOH dan H2SO4 adalah 2:1:
 Hal ini dapat dilihat dari persamaan reaksi setara:
2NaOH + H2SO4 ---> Na2SO4 + 2H2O
3) Jadi:
2 banding 1 maka 0,00837 mol setara dengan 0,00837 mol dibagi 2 = 0,004185 mol H2SO4
4) MEnghitung volume  H2SO4 yang dibutuhkan:
0,004185 mol dibagi 0,740 mol/L = 0,0056554 L =  5,66 mL

Contoh #5: A 21,62 mL  Ca(OH)2 dititrasi dengan HCl 0,2545 M sebanyak 45,87 mL sampai titik akhir titrasi.
(a) Bagaimana persamaan reaksinya?
(b) Berapakah konsentrasi kalsium hidroksida?
Penyelesaian:
1) Persamaan reaksi setara:
2HCl + Ca(OH)2 ---> CaCl2 + 2H2O
2) Mencari konsentrasi kalsium hidroksida:
mol HCl ---> (0,2545 mol/L) (0,04587 L) = 0,011674 mol . Perbandingan molar HCl to Ca(OH)2 adalah 2 : 1, maka:
mol of Ca(OH) = 0,005837 mol
Konsentrasi Ca(OH)2 ---> 0,005837 mol / 0,02162 L = 0,2700 M

Contoh #6: Hitunglah volume NaOH yang dibutuhkan untuk menetralisasi 50,0 mL asam sulfat 16,0 M. Konsentrasi NaOH adalah 2,50 M,

Penyelesaian:
2 NaOH + H2SO4 ---> Na2SO4 + 2H2O Hitung mol H2SO4 dengan menggunakan n = C x V:
n = 16,0 mol/L x 50 mL = 800 mmol
Sekarang lihat persamaannya. Setiap mol H2SO4 membutuhkan dua kali mol NaOH untuk menetralisasi H2SO4.
Jadi, mol NaOH = 800 x 2 = 1600 mmol NaOH yang dibutuhkan.
Jika sudah mempunyai mol dan konsentrasi, sekarang tinggal menghitung volume.:
V = mol / konsentrasi V = 1600 mmol / 2,50 mol/L = 640 mL

Contoh soal #7: Jika 0,2501 gram natrium karbonat kering membutuhkan 27,00 mL HCl untuk melengkapi reaksi, berapa konsentrasi HCl?
Penyelesaian:
Na2CO3 + 2HCl ---> 2NaCl + CO2 + H2O

mol Na2CO3 ---> 0,2501 g / 105,988 g/mol = 0,0023597 mol

2 mol of HCl dibutuhkan untuk setiap satu mol Na2CO3
0,0023597 mol x 2 = 0,0047194 mol HCl
0,0047194 mol / 0,02700 L = 0,1748 M

Contoh soal #8: Berapakah konsentrasi asam sitrat dalam soda jika membutuhkan 32,27 mL NaOH 0,0148 M untuk mentitrasi 25,00 mL soda?
Solution:
Asam sitrat mempunyai tiga hidrogen asam, jadi kita menggunakan rumus H3Cit
H3Cit + 3NaOH ---> Na3Cit + 3H2O
Kuncinya adalah perbandingan molar 1 : 3 antara H3Cit dan NaOH
mol NaOH ---> (0,0148 mol/L) (0,03227 L) = 0,000477596 mol
1 mol untuk 3 mol seperti x untuk 0,000477596 mol
Jadi x = 0,0001592 mol (of H3Cit)
0,0001592 mol / 0,0250 L = 0,00637 

Contoh soal #9: 20,00 mL Al(OH)3 0,250 M menetralisasi 75,00 mL larutanH2SO4. Berapakah konsentrasi H2SO4?
Penyelesaian:
2Al(OH)3 + 3H2SO4 ---> Al2(SO4)3 + 6H2O Al(OH)3
Perbandingan molarnya adalah 2:3,
mol Al(OH)3 ---> (0,250 mol/L) (20,00 mL) = 5,00 mmol
2 mol untuk 3 mol seperti 5,00 mol untuk x
x = 7,50 mmol
Molaritas H2SO4 ---> 7,50 mmol / 75,00 mL = 0,100 M

Contoh soal #10: 51,00 ml asam fosfat (H3PO4) bereaksi dengan 13,90 gram barium hidroksida, Ba(OH)2 sesuai dengan persamaan reaksi berikut. Berapakan molaritas asam fosfat?
Peneyelesaian:
2 H3PO4 + 3Ba(OH)2 ---> Ba3(PO4)2 + 6H2O

mol Ba(OH)2: 13,90 g / 171,344 g/mol = 0,08112335 mol
3 mol Ba(OH)2 bereksi dengan 2 mol H3PO4
0,08112335 mol Ba(OH)2 bereaksi dengan x mol H3PO4
x = 0,0540822 mol
Molaritas asam fosfat: 0,0540822 mol/0,05100 L = 1,06 M

Contoh soal #11: Berapakah konsentrasi larutan Ca(OH)2 jika 10,0 mL larutan H3PO4 0,600 M digunakan untuk menetralisasi  12,5 mL larutan Ca(OH)2 ?
Penyelesaian:
3Ca(OH)2 + 2H3PO4 ---> Ca3(PO4)2 + 6H2O

Rasion molar antara  Ca(OH)2 and H3PO4 adalah 3 : 2
mol H3PO4 ---> (0,600 mol/L) (0,0100 L) = 0,00600 mol
3 mol untuk 2 mol seperti x untuk 0,00600 mol
Jadi, x = 0,00900 mol



0,00900 mol / 0,0125 L = 0,720 M

Contoh soal#12: 4,65 g Co(OH)2 dilarutkan dalam 500,0 mL. Sebanyak 3,64 g suatu asam dilarutkan dalam 250,0 mL. 18,115 mL basa digunakan untuk mentitrasi 25,0 mL asam sampai titik akhir titrasi.
a) Hitunglah konsentrasi larutan basa.
b)Hitunglah massa molar larutan asam.
Penyelesaian:
1) Molaritas basa:
MV = gram / massa molar  (x) (0,5 L) = 4,65 g / 92,9468 g/mol
x = 0,100 mol/L
2) Mol basa yang digunakan:
(0,100 mol/L) (0,018115 L) = 0,0018115 mol
3) Kita harus mengasumsikan bahwa asam adalah monoprotik, karena langkah selanjutnya adalah menentukan mol asam yang bereaksi.
2HX + Co(OH)2 ---> CoX2 + 2H2O

Dua HX digunakan setiap Co(OH)2 yang bereaksi
4) Mol asam:
0,0018115 mol x 2 = 0,003623 mol
5) Gram asam dalam 0,025 L:
4,65 g untuk 0,5000 L seperti x untuk 0,0250 L

Jadi x = 0,2325 g
6) Massa molar asam:
0,2325 g / 0,003623 mol = 64,2 g/mol

Contoh soal #13: 11,96 mL larutan NaOH 0,102 M digunakan untuk mentitrasi 0,0927 g suatu asam sampai titik akhir titrasi menggunakan indikator asam basa bernama fenolftalein (pp). Berapakah massa molekul asam jika asam tersebut adalah monoprotik? Jika diprotik?
Penyelesaian:
1) mol NaOH:
(0,102 mol/L) (0,01196 L) = 0,00121992 mol
2) Jika asam monoprotik:
HA + NaOH ---> NaA + H2O
Perbandingan molar = 1:1 
0,0927g / 0,00121992 mol = 76 g/mol
3) Jika asam diprotik:
H2A + 2 NaOH ---> Na2A + 2 H2O

Perbandingan molar = 1 : 2
= 0,00121992 mol asam / 2 = 0,00060996 mol asam
0,0927 g / 0,00060996 mol = 152 g/mol


Contoh soal #14: A 0,3017 g sampel asam diprotik (dengan massa molar 126,07 g/mol) dilarutkan ke dalam air dan dititrasi dengan 37,26 mL NaOH. Sebanyak 24,05 mL larutan NaOH digunakan untuk mentitrasi 0,2506 g asam yang belum diketahui, namun sifatnya monoprotik. Berapakah massa molar asam tersebut?
Penyelesaian:
1) mol asam diprotik:
0,3017 g / 126,07 g/mol = 0,002393115 mol
2) mol NaOH yang dibutuhkan:
H2A + 2NaOH ---> Na2A + 2H2O

Perbandingan molar =1 : 2 
0,002393115 mol asam x 2 = 0,004786230 mol basa

3) molaritas larutan NaOH:
0,004786230 mol / 0,03726 L = 0,128455 M
4) Massa molar asam monoprotik:
(0,128455 mol/L) (0,02405 L) = 0,00308934275 mol NaOH

HA + NaOH ---> NaA + H2O
HA dan NaOH bereaksi dengan perbandingan molar 1:1
0,00308934275 mol HA yang bereaksi
0,2506 g / 0,00308934275 mol = 81,1 g/mol

Contoh soal #15: Berapa gram aspirin (C9H8O4), sebuah asam monoprotik yang dibutuhkan untuk tepat bereaksi dengan 29,4 mL larutan NaOH 0,2400% b/b (berat per berat)?
Penyelesaian:
1) Anggap bahwa massa jenis NaOH adalah 1,00 g/mL
0,2400% b/b berarti 0,2400 g NaOH per 100,0 g larutan. Dengan massa jenis, kita mengetahui bahwa 100,0 g larutan menempati volume 100,0 mL
2) Berapa banyak NaOH dalam 29,4 mL larutan?
0,2400 g dalam 100 mL sama dengan x dalam 29,4 mL

Jadi, x = 0,07056 g of NaOH
3) Berapa jumlah molnya?
0,07056 g / 40,0 g/mol = 0,001764 mol
4) Berapa mol aspirin yang bereaksi?
Karena perbandingan molar =  1:1, kita tahu bahwa 0,001764 mol aspirin bereaksi. 0,001764 mol x 180,1582 g/mol = 0,318 
Publisher: Unknown - 16.00

Senin, 14 Januari 2013

,

Dasar Titrasi Asam Basa

Pengertian Titrasi Asam Basa

Titrasi merupakan salah satu prosedur dalam ilmu kimia yang digunakan untuk menentukan molaritas dari suatu asam dan basa. Reaksi kimia pada titrasi dikenakan pada "larutan yang sudah diketahui volumenya, namun tidak diketahui konsentrasinya" dan "larutan yang sudah diketahui volume dan konsentrasinya". Tingkat keasaman atau kebasaan dapat ditentukan dengan menggunakan asam atau basa yang ekivalen. Ekivalen asam setara dengan satu mol ion hidronium (H+ atau H3O+). Sedangkan ekivalen basa setara dengan satu mol ion hidroksida (OH-). Jika yang direaksikan adalah asam atau basa poliprotik (banyak ekivalen), maka setiap mol zat tersebut akan melepaskan lebih dari satu H+ atau OH-.

gambar titrasi asam basa

Titik Ekivalen

Ketika larutan yang sudah diketahui konsentrasinya direaksikan dengan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya, maka akan dicapai titik dimana jumlah asam sama dengan jumlah basa, yang disebut dengan titik ekivalen. Titik ekivalen dari asam kuat dan basa kuat mempunyai pH 7. Untuk asam lemah dan basa lemah, titik ekivalen tidak terjadi pada pH 7. Dan untuk larutan asam basa poliprotik, akan ada beberapa titik ekivalen.

Cara Memprediksi Titik Ekivalen

Ada dua cara yang biasa digunakan untuk memprediksi dan menentukan titik ekivalen, yaitu menggunakan pH meter dan indikator asam-basa.

Menggunakan pH meter

Metode ini melibatkan grafik sebagai fungsi pH dan volume titran yang dipakai yang disebut dengan kurva titrasi. Contoh kurva titrasi adalah:


Menggunakan indikator

Metode ini mengandalkan timbulnya perubahan warna larutan. Indikator asam basa merupakan suatu asam atau basa organik lemah yang mempunyai warna yang berbeda pada keadaan terdisosiasi maupun tidak. Karena digunakan dalam konsentrasi yang rendah, indikator tidak menunjukkan perubahan yang besar pada titik ekivalen. Titik dimana indikator berubah warna merupakan titik akhir titrasi. Untuk titrasi, perbedaan volume antara titik akhir dengan titik ekivalen relatif kecil. Seringkali kesalahan (error) pada perbedaan volume diabaikan. Seharusnya dalam kasus tersebut diberlakukan faktor koreksi. Volume yang ditambahkan untuk mencapai titik akhir dapat dihitung dengan menggunakan rumus sederhana berikut:
VANA = VBNB
dimana V adalah volume, N adalah normalitas, A adalah asam, dan B adalah basa.
Publisher: Unknown - 16.00

Minggu, 13 Januari 2013

,

Indikator Asam Basa

Pengertian Indikator Asam Basa

Indikator asam basa adalah senyawa khusus yang ditambahkan pada larutan, dengan tujuan mengetahui kisaran pH dalam larutan tersebut. Indikator asam basa biasanya adalah asam atau basa organik lemah. Senyawa indikator yang tak terdisosiasi akan mempunyai warna berbeda dibanding dengan indikator yang terionisasi. Sebuah indikator asam basa tidak mengubah warna dari larutan murni asam ke murni basa pada konsentrasi ion hidrogen yang spesifik, melainkan hanya pada kisaran konsentrasi ion hidrogen. Kisaran ini merupakan suatu interval perubahan warna, yang menandakan kisaran pH.

Penggunaan Indikator Asam Basa

Larutan yang akan dicari tingkat keasamannya diberi suatu asam basa yang sesuai, kemudian dilakukan suatu titrasi. Perubahan pH dapat diketahui dari perubahan warna larutan yang berisi indikator. Perubahan warna ini sesuai dengan kisaran pH yang sesuai dengan jenis indikator.

Indikator yang Biasa Digunakan

Di bawah ini ada beberapa indikator asam basa yang sering digunakan. Indikator dapat bekerja pada larutan, maupun alkohol sesuai dengan sifatnya. Inilah contoh indikator yang digunakan untuk mengetahui pH.

gambar indikator pp
Indikator pp berwarna pink saat basa dan tak berwarna saat asam

Daftar indikator asam basa lengkap



IndikatorRentang pHKuantitas penggunaan per 10 mlAsamBasa
Timol biru1,2-2,81-2 tetes 0,1% larutanmerahkuning
Pentametoksi merah1,2-2,31 tetes 0,1% dlm larutan 0% alkoholmerah-ungutak berwarna
Tropeolin OO1,3-3,21 tetes 1% larutanmerahkuning
2,4-Dinitrofenol2,4-4,01-2 tetes 0,1% larutan dlm 50% alkoholtak berwarnakuning
Metil kuning2,9-4,01 tetes 0,1% larutan dlm 90% alkoholmerahkuning
Metil oranye3,1-4,41 tetes 0,1% larutanmerahoranye
Bromfenol biru3,0-4,61 tetes 0,1% larutankuningbiru-ungu
Tetrabromfenol biru3,0-4,61 tetes 0,1% larutankuningbiru
Alizarin natrium sulfonat3,7-5,21 tetes 0,1% larutankuningungu
α-Naftil merah3,7-5,01 tetes 0,1% larutan dlm 70% alkoholmerahkuning
p-Etoksikrisoidin3,5-5,51 tetes 0,1% larutanmerahkuning
Bromkresol hijau4,0-5,61 tetes 0,1% larutankuningbiru
Metil merah4,4-6,21 tetes 0,1% larutanmerahkuning
Bromkresol ungu5,2-6,81 tetes 0,1% larutankuningungu
Klorfenol merah5,4-6,81 tetes 0,1% larutankuningmerah
Bromfenol biru6,2-7,61 tetes 0,1% larutankuningbiru
p-Nitrofenol5,0-7,01-5 tetes 0,1% larutantak berwarnakuning
Azolitmin5,0-8,05 tetes 0,5% larutanmerahbiru
Fenol merah6,4-8,01 tetes 0,1% larutankuningmerah
Neutral merah6,8-8,01 tetes 0,1% larutan dlm 70% alkoholmerahkuning
Rosolik acid6,8-8,01 tetes 0,1% larutan dlm 90% alkoholkuningmerah
Kresol merah7,2-8,81 tetes 0,1% larutankuningmerah
α-Naftolftalein7,3-8,71-5 tetes 0,1% larutan dlm 70% alkoholmerah mawarhijau
Tropeolin OOO7,6-8,91 tetes 0,1% larutankuningmerah mawar
Timol biru8,0-9,61-5 tetes 0,1% larutankuningbiru
Fenolftalein (pp)8,0-10,01-5 tetes 0,1% larutan dlm 70% alkoholtak berwarnamerah
α-Naftolbenzein9,0-11,01-5 tetes 0,1% larutan dlm 90% alkoholkuningbiru
Timolftalein9,4-10,61 tetes 0,1% larutan dlm 90% alkoholtak berwarnabiru
Nile biru10,1-11,11 tetes 0,1% larutanbirumerah
Alizarin kuning10,0-12,01 tetes 0,1% larutankuninglilac
Salisil kuning10,0-12,01-5 tetes 0,1% larutan dlm 90% alkoholkuningoranye-coklat
Diazo ungu10,1-12,01 tetes 0,1% larutankuningungu
Tropeolin O11,0-13,01 tetes 0,1% larutankuningoranye-coklat
Nitramin11,0-13,01-2 tetes 0,1% larutan dlm 70% alkoholtak berwarnaoranye-coklat
Poirrier's biru11,0-13,01 tetes 0,1% larutanbiruungu-pink
Asam trinitrobenzoat12,0-13,41 tetes 0,1% larutantak berwarnaoranye-merah

Indikator Asam Basa Alami

Senyawa alam banyak yang digunakan sebagai indikator asam basa alami. Beberapa tumbuhan yang bisa dijadikan sebagai bahan pembuatan indikator asam basa alami antara lain adalah kubis ungu, sirih, kunyit, dan bunga yang mempunyai warna (anggrek, kamboja jepang, bunga sepatu, asoka, bunga kertas). Cara membuat indikator asam basa alami adalah:
  1. Menumbuk bagian bunga yang berwarna pada mortar.
  2. Menambahkan sedikit akuades pada hasil tumbukan sehingga didapatkan ekstrak cair.
  3. Ekstrak diambil dengan pipet tetes dan dan diteteskan dalam keramik.
  4. Menguji dengan meneteskan larutan asam  dan basa pada ekstrak, sehingga ekstrak dapat berubah warna.

Inilah hasil pengamatan beberapa indikator asam basa alami.



Warna BungaNama BungaWarna Air BungaWarna Air Bunga Keadaan AsamWarna Air Bunga Keadaan Basa
MerahKembang sepatuUngu mudaMerahHijau tua
KuningTerompetKuning keemasanEmas mudaEmas tua
UnguAnggrekUngu tuaPink tuaHijau kemerahan
MerahAsokaCoklat mudaOranye mudaCoklat
KuningKunyitOranyeOranye cerahCoklat kehitaman
UnguBougenvillePink tuaPink mudaCoklat teh
PinkEuphorbiaPink keputih-putihanPink mudaHijau lumut
MerahKambojaCoklat tuaCoklat oranyeCoklat kehitaman

Publisher: Unknown - 16.00

Sabtu, 12 Januari 2013

,

Kurva Titrasi

Seperti pembahasan sebelumnnya, titrasi merupakan sebuah cara untuk mengetahui konsentrasi sebuah larutan dengan jalan mereaksikannya dengan larutan lain, yang biasanya berupa asam atau basa. Titrasi umumnya dilakukan dengan menambahkan titran yang sudah diketahui konsentrasinya melalui buret pada titrat dengan volume tertentu yang dicari konsentrasinya. Pada reaksi antara asam dan basa, titrasi sangat berguna untuk mengukur pH pada berbagai variasi titik melalui reaksi kimia. Hasilnya adalah sebuah titrasi. Kurva titrasi adalah grafik sebagai fungsi pH dengan jumlah titran yang ditambahkan.

Kurva Titrasi Asam Kuat dan Basa Kuat

Inilah contoh kurva titrasi yang dihasilkan ketika asam kuat (titrat) dititrasi dengan basa kuat (titran).

gambar kurva titrasi asam kuat basa kuat

Titik ekivalen titrasi adalah titik dimana titran ditambahkan tepat bereaksi dengan seluruh zat yang dititrasi tanpa adanya titran yang tersisa. Dengan kata lain, pada titik ekivalen jumlah mol titran setara dengan jumlah mol titrat menurut stoikiometri.
Pada gambar di atas, awalnya pH naik sedikit demi sedikit. Hal ini dikarenakan skala naiknya pH bersifat logaritmik, yang berarti pH 1 mempunyai keasaman 10 kali lipat daripada pH 2. Ingat bahwa log 10 adalah 1. Dengan demikian, konsentrasi ion hidronium pada pH 1 adalah 10 kali lipat konsentrasi ion hidronium pada pH 2. Kemudian naik tajam di dekat titik ekivalen. Pada titik ini, ion hidronium yang tersisa tinggal sedikit, dan hanya membutuhkan sedikit ion hidroksida untuk menaikkan pH.

Kurva Titrasi Asam Lemah dan Basa Kuat

Inilah kurva titrasi yang dihasilkan ketika asam lemah dititrasi dengan basa kuat:

kurva titrasi asam lemah basa kuat

Kurva titrasi asam lemah dan basa kuat di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Asam lemah mempunyai pH yang rendah pada awalnya.
  2. pH naik lebih cepat pada awalnya, tetapi kurang cepat saat mendekati titik ekivalen.
  3. pH titik ekivalen tidak tepat 7.

pH yang dihasilkan oleh titrasi asam lemah dan asam kuat lebih dari 7. Pada titrasi asam lemah dan basa kuat, pH akan berubah agak cepat pada awalnya, naik sedikit demi sedikit sampai mendekati titik ekivalen. Kenaikan sedikit demi sedikit ini adalah karena larutan buffer (penyangga) yang dihasilkan oleh penambahan basa kuat. Sifat penyangga ini mempertahankan pH sampai basa yang ditambahkan berlebihan. Dan kemudian pH naik lebih cepat saat titik ekivalen.

Kurva Titrasi Asam Kuat dan Basa Lemah

Inilah kurva titrasi yang dihasilkan ketika asam kuat dititrasi dengan basa lemah:

kurva titrasi asam kuat basa lemah

Kurva titrasi asam kuat dan basa lemah di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Asam kuat mempunyai pH yang rendahi pada awalnya.
  2. pH naik perlahan saat permulaan, namun cepat saat mendekati titik ekivalen.
  3. pH titik ekivalen tidak tepat 7.

Titik ekivalen untuk asam kuat dan basa lemah mempunyai pH kurang dari 7.

Kurva Titrasi Asam Lemah dan Basa Lemah

Kurva titrasi asam lemah dan basa lemah adalah sebagai berikut:

kurva titrasi asam lemah basa lemah

Asam lemah dan basa lemah pada gambar di atas tidak menghasilkan kurva yang tajam, bahkan seperti tidak beraturan. Dalam kurva titrasi asam lemah dan basa lemah, ada sebuah titik infleksi yang hampir serupa dengan titik ekivalen.
Publisher: Unknown - 16.00

Kamis, 10 Januari 2013

,

Kekuatan Asam Brønsted-Lowry

Dalam kimia anorganik terdapat aspek kekuatan asam anorganik yang menarik utnuk dipahami. Aspek kekuatan asam ini diturunkan dari teori asam basa Brønsted-Lowry.  Asam-asam yang umum dikenal dengan nilai Ka berpangkat positif atau pKa berharga negatif seperti asam hidroklorida, asam nitrat, asam sulfat, dan asam perklorat, semuanya dipertimbangkan sebagai asam kuat. Sebaliknya asam-asam dengan nilai Ka berpangkat negatif atau pKa berharga positif seperti asam nitrit, asam hidrofluorida dan hampir semua asam anorganik yang lain adalah asam lemah, yaitu terdapat porsi molekul asam yang cukup besar dalam larutannya.

Dalam air, semua asam-asam kuat tersebut nampaknya mempunyai kekuatan yang relatif sama, terionisasi hampir 100%. Dalam hal ini air dikatakan bertindak sebagai pelarut penyama, leveling solvent, karena menghasilkan ion hidronium, H3O+, yang merupakan kemungkinan asam terkuat dalam larutan air. Untuk mengidentifikasi asam mana yang lebih kuat secara kualitatif dapat dilakukan dengan melarutkan asam-asam yang bersangkutan ke dalam suatu basa yang lebih lemah daripada air. Basa yang lebih lemah ini, yang sering berupa asam lemah murni akan bertindak sebagai pelarut pembeda (differentiating solvent) bagi asam-asam. Sebagai contoh adalah asam perklorat dalam pelarut hidrogen fluorida yang mengalami ionisasi menurut persamaan reaksi keseimbangan berikut:

HClO4 (HF) + HF (l) H2F+ (HF) + ClO4- (HF)

Asam yang lebih lemah, HF, dalam campuran ini bertinda sebagai basa yaitu akseptor (penerima) proton bagi asam perklorat yang lebih kuat sebagai donor proton. Tetapi, karena asam fluorida bersifat basa lebih lemah daripada air, reaksi keseimbangan tersebut tidak sepenuhnya menggeser ke kanan, yaitu ke arah produk, seperti halnya yang terjadi dalam pelarut air. Percobaan seperti ini dapat dilakukan bagi asam-asam yang lain, sehingga diperoleh harga tetapan keseimbangan yang berbeda-beda, dan ternyata asam perklorat merupakan asam yang paling kuat.

rumus kimia struktur asam perklorat

Publisher: Unknown - 16.00

Rabu, 09 Januari 2013

,

Tetapan Kesetimbangan Asam Basa

Tingkat kekuatan suatu asam melukiskan ukuran tingkat kemudahan ion hidrogen yang dapat dilepaskan dari spesies yang bersangkutan. Ukuran yang umum untuk asam dan basa adalah perbandingannya relatif terhadap air dalam hal tetapan keseimbangan. Untuk asam, tetapan ini diidentifikasi sebagai tetapan ionisasi asam, Ka. Reaksi keseimbangan asam dengan rumus HA adalah
HA (aq) + H2O (l) H3O+ (aq) + A- (aq)

sehingga rumusan tetapan keseimbangan ionisasinya adalah Ka= [H3O+][A-] / [HA]
Karena niai tetapan melibatkan numerik dengan pangkat / eksponen sangat kecil hingga sangat besar, maka ukuran kuantitatif kekuatan asam lebih sering dinyatakan dalam pKa (p = potent), dengan pKa = - log Ka. Dengan demikian, makin kuat suatu asam makin besar nilai Ka atau makin negatif nilai pKa.

tetapan keseimbangana sam basa

Untuk basa, tetapan keseimbangan diidentifikasi sebagai tetapan ionisasi basa, Kb. Reaksi keseimbangan basa dengan rumus umum A- dapat dituliskan :

A- (aq) + H2O (l) HA (aq) + OH- (aq)

Oleh karena itu, rumus tetapan keseimbangan ionisasinya adalah Kb= [HA][OH-] / [A-] dan secara sama pKb = - log Kb. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa makin kuat suatu basa makin besar nilai Kb atau makin kecil nilai pKb.

Ada hubungan matematis antara tetapan ionisasi asam dengan tetapan ionisasi basa konyugasinya, yaitu bahwa perkalian keduanya sama dengan tetapan perkalian ion dari air, Kw (= 1014 mol2dm-6 pada 25oC). Jadi Kw = Ka x Kb, dan dengan demikian pKw= pKa + Kb. Oleh karena itu mudah dipahami bahwa makin kuat suatu basa berarti makin lemah asam konyugasinya, demikian sebaliknya makin kuat suatu asam makin lemah basa konyugasinya.
Publisher: Unknown - 16.00

Selasa, 08 Januari 2013

,

Teori Asam dan Basa

Pendahuluan Asam Basa

Dalam kesempatan ini pembahasan materi asam basa ditekankan pada aspek teoritik untuk tingkah laku asam dan basa. Teori asam basa sebagaimana umumnya terus berkembang untuk menjawab tantangan berkaitan dengan teori-teori yang lebih awal. Teori asam basa yang paling sederhana pada awalnya dikemukakan oleh Svante Arrhenius pada tahun 1884. Menurut teori Arrhenius, asam adalah spesies yang mengandung ion-ion hidrogen, H+ atau H3O+, dan basa mengandung ion hidroksida (OH-). Namun demikian, dalam teori ini terdapat dua kelemahan utama yang menyangkut masalah pelarut dan masalah garam.

acid bases asam basa pH

Teori asam basa Arrhenius ini berasumsi bahwa pelarut tidak berpengaruh pada sifat asam basa. Jika hidrogen klorida, HCl, dilarutkan dalam air untuk menghasilkan asam hidroklorida, larutan ini menghantarkan listrik, tetapi jika dilarutkan dalam pelarut seperti benzena, C6H6, larutannya tidak menghantarkan arus listrik. Perbedaan sifat HCl di dalam pelarut tersebut menyarankan bahwa pelarut benar-benar berpengaruh terhadap tingkah laku zat terlarut.

Masalah kedua menyangkut tingkah laku garam. Garam seharusnya bersifat sebagai spesies netral, namun kenyataannya banyak garam yang bersifat tidak netral, jadi bertentangan dengan anggapan ini. Sebagai contoh, larutan ion fosfat dan karbonat bersifat basa, sebaliknya ion-ion amonium bersifat sedikit asam dan ion-ion aluminium bersifat sangat asam. Masalah yang menambah kebingungan ditunjukkan dengan oleh larutan NaH2PO4 yang bersifat basa.

Untuk mengatasi masalah tersebut dan juga agar lebih realistik, pada tahun 1923 Thomas M. Lowry dari Inggris dan Johannes N. Brønsted dari Denmark, masing-masing bekerja sendiri-sendiri melengkapi teori asam basa yang melibatkan pelarut yang kemudian dikenal dengan teori asam basa Brønsted-Lowry. Pemahaman asam basa yang melibatkan aspek donor-akseptor elektron dikenalkan oleh G. N. Lewis pada tahun yang sama dan ion oksida oleh H. Lux (1939) dan H. Flood (1947). Perlu dicatat bahwa pengertian asam basa bukan berbicara tentang aspek kebenaran melainkan aspek kesesuaian pada kondisi tertentu.

Teori Asam Basa

Dari keseluruhan teori asam basa, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

Teori Asam Basa Arrhenius

Teori asam basa Arrhenius didasarkan pada pembentukan ion dan pada larutan berair (aqueous solution).
  • Asam adalah spesies yang menghasilkan ion H+ atau H3O+ dalam larutan berair.
  • Basa adalah  spesies yang menghasilkan ion OH- dalam larutan berair.

Teori Asam Basa Lewis

Teori asam basa Lewis didasarkan pada transfer pasangan elektron.
  • Asam adalah spesies penerima (akseptor) pasangan elektron.
  • Basa adalah spesies pemberi (donor) pasangan elektron.

Teori Asam Basa Brønsted-Lowry

Teori asam basa Brønsted-Lowry didasarkan pada transfer proton.
  • Asam adalah spesies pemberi (donor) proton.
  • Basa adalah spesies penerima (akseptor) proton.

Sifat-sifat Asam Basa

Sifat Asam

  • Mempunyai rasa asam (awas jangan sekali-sekali mencicipinya!). Kata asam berasal dari bahasa Latin acere yang berarti asam.
  • Mengubah lakmus dari warna biru ke merah.
  • Larutan asam menghantarkan arus listrik (bersifat elektrolit).
  • Bereaksi dengan basa membentuk garam dan air.
  • Menghasilkan gas hidrogen ketika bereaksi dengan logam (seperti logam alkali, alkali tanah, seng, aluminium).

Sifat Basa

  • Mempunyai rasa pahit (awas jangan sekali-sekali mencicipinya!).
  • Terasa licin atau bersabun (awas jangan secara langsung menyentuhnya!).
  • Mengubah lakmus dari warna merah ke biru.
  • Larutan basa menghantarkan arus listrik (bersifat elektrolit).
  • Bereaksi dengan asam membentuk garam dan air.

Contoh Asam Basa

Contoh asam dalam kehidupan sehari-hari:

  • Vitamin C (asam askorbat)
  • Asam cuka (mengandung sekitar 5% asam asetat)
  • Asam karbonat (terdapat pada minuman ringan)

Contoh basa dalam kehidupan sehari-hari:

  • Deterjen
  • Sabun
  • Amonia rumah tangga
Publisher: Unknown - 16.00

Senin, 07 Januari 2013

,

Asam Basa Brønsted-Lowry

Menurut teori asam basa Brønsted-Lowry, asam adalah donor atau penyumbang proton, dan basa adalah akseptor atau penerima proton. Pengertian ini sebenarnya agak menyesatkan, karena lebih tepat merupakan kompetisi proton antara dua senyawa dengan pemenangnya adalah basa. Teori ini tidak menekankan tingkah laku asam yang menyumbangkan proton, melainkan pentingnya peran pelarut yang mengalami swa-ionisasi oleh karena berlangsungnya reaksi asam-basa. Jadi misalnya, air mengalami swa-ionisasi dengan menghasilkan ion hidronium dan ion hidroksida menurut persamaan reaksi berikut:

H2O (l) + H2O (l)   H3O+ (aq) + OH - (aq)
Harga Kw =[H3O+][OH -] = 1,0 x 10-14; 1,2 x 10-14 dan 4,8 x 10-13 mol2dm-6, masing-masing pada temperatur 25oC, 0oC dan 100oC.

Pada swa-ionisasi, molekul air yang menyumbang ion hidrogen atau proton adalah suatu asam, dan yang menerima hidrogen adalah suatu basa. Pada proses sebaliknya ion hidronium (H+) bertindak sebagai asam dan hidroksida (OH -) adalah sebagai basa. Dua spesies yang berbeda formula oleh ion H+ dikatakan pasangan asam-basa konyugasi. Dalam contoh tersebut air adalah basa konyugasi dari ion H3O+, dan air adalah asam konyugasi dari ion OH -. Sifat suatu senyawa yang mampu bertindak sebagai asam atau sebagai basa disebut sifat amfiprotik.

Teori Brønsted-Lowry jelas menunjuk pada adanya ion hidronium secara nyata, teori ini diusulkan pertama kali pada tahun 1923 dan bukti pertama adanya ion hidronium ditemukan kira-kira satu tahun kemudian yaitu pada kristal asam perklorat monohidrat, HClO4.H2O yang menunjukkan kenampakan yang sama dengan kristal amonium perklorat, NH4+ClO4- atau H3O+ ClO4. Kira kira sepuluh tahun kemudian struktur kristal asam ini berhasil diidentifikasi melalui difraksi sinar-X, dan ternyata dugaan struktur dengan tiga molekul air tetangga, sehingga lebih tepat dinyatakan dengan formula H9O4+ atau H3O+.3H2O, namun untuk penyederhanaan biasanya diabaikan penulisan tiga molekul hidratnya.

Jadi tinjauan sifat asam basa ditunjukkan oleh sifat reaksi kimia spesies yang bersangkutan dengan pelarut, dalam hal ini air, misalnya untuk asam hidrofluorida seperti berikut ini:

HF (aq) + H2O (l) H3O+ (aq) + F- (aq)

Dalam reaksi ini, air berperan sebagai basa, dan ion fluorida sebagai basa konyugasi asam hidrofluorida. Secara sama, amonia, NH3 dalam air merupakan contoh basa yang bereaksi dengan air sebagai pelarut yang berperan sebagai asam dan menghasilkan asam konyugasi ion amonium, NH4+ menurut persamaan reaksi:

NH3(aq) + H2O (l) NH4+(aq) + OH -(aq)
Publisher: Unknown - 16.00

Minggu, 06 Januari 2013

,

Asam Basa Lewis

Teori asam basa Lewis sangat baik untuk mengidentifikasi sifat suatu reaksi dalam berbagai pelarut yang mengandung hidrogen yang dapat terion. Tetapi, konsep ini tidak dapat menjelaskan suatu reaksi yang tidak melibatkan transfer ion hidrogen. Lewis mengusulkan konsep asam basa berkaitan dengan donor pasangan elektron. Menurut Lewis, asam didefinisikan sebagai penerima pasangan elektron dan basa sebagai donor pasangan elektron. Reaksi antara boron trifluorida dengan amonia menurut teori ini merupakan reaksi asam-basa; dalam hal ini boron trifluorida berindak sebagai asam dan amonia sebagai basa. Dengan menggunakan diagram dot-elektron, persamaan reaksi kedua spesies ini dapat dituliskan sebagai berikut:

nh3 bf3 dot electron lewis

Di dalam kulit valensi atom pusat N dalam molekul NH3, terdapat tiga pasang elektron ikatan (N-H) dan satu pasang elektron menyendiri, sedangkan untuk atom pusat B alam molekul BF3 terdapat tiga pasang elektron ikatan (B-F). Sepasang elektron menyendiri atom elektron non bonding ini dapat disumbangkan kepada atom pusat B untuk kemudian dimiliki bersama-sama, Dengan demikian terjadi ikatan kovalen koordinat B-N dan struktur yang terjadi berupa dua bangun tetrahedron bersekutu pada salah satu sudutnya.

Banyak dijumpai reaksi asam-basa Lewis yang paralel dengan reaksi asam-basa Brønsted-Lowry dan diantaranya berlangsung dalam pelarut bukan air. Cairan murni yang dapat terukur hantaran listriknya misalnya bromin trifluorida, BrF3, tentu mengandung ion-ion. Spesies ini mengalami swa-ionisasi dengan menghasilkan kation BrF2+ dan anion BrF4- menurut persamaan reaksi:
2 BrF3 (l) BrF2+ (BrF3 ) + BrF4- (BrF3 ) (aq)
Spesies [BrF2][SbF6] dan Ag[BrF4] telah berhasil ditemukan, dan dalam sistem pelarut cairan BrF3 (l) masing-masing bersifat asam dan basa. Oleh karena itu keduanya bereaksi menurut reaksi netralisasi Lewis sebagai berikut:
[BrF2][SbF6]  (BrF3 ) + Ag[BrF4] Ag[SbF6] (BrF3 ) + 2 BrF3 (l)
Publisher: Unknown - 16.00